Rabu, 27 Oktober 2010

Askep Trauma Kepala

TRAUMA KEPALA

A. Pengertian
Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001)

B. Klasifikasi
Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG):
1. Minor
• SKG 13 – 15
• Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit.
• Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma.
2. Sedang
• SKG 9 – 12
• Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam.
• Dapat mengalami fraktur tengkorak.
3. Berat
• SKG 3 – 8
• Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam.
• Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.

C. Etiologi
 Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil.
 Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
 Cedera akibat kekerasan.


D. Patofisiologis
Cedera memegang peranan yang sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekuensi patofisiologis dari suatu trauma kepala. Cedera percepatan (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam, seperti trauma akibat pukulan benda tumpul, atau karena kena lemparan benda tumpul. Cedera perlambatan (deselerasi) adalah bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba-tiba tanpa kontak langsung, seperti yang terjadi bila posisi badan diubah secara kasar dan cepat. Kekuatan ini bisa dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala, yang menyebabkan trauma regangan dan robekan pada substansi alba dan batang otak.
Cedera primer, yang terjadi pada waktu benturan, mungkin karena memar pada permukaan otak, laserasi substansi alba, cedera robekan atau hemoragi. Sebagai akibat, cedera sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi serebral dikurangi atau tak ada pada area cedera. Konsekuensinya meliputi hiperemi (peningkatan volume darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler, serta vasodilatasi arterial, semua menimbulkan peningkatan isi intrakranial, dan akhirnya peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak sekunder meliputi hipoksia, hiperkarbia, dan hipotensi.
Genneralli dan kawan-kawan memperkenalkan cedera kepala “fokal” dan “menyebar” sebagai kategori cedera kepala berat pada upaya untuk menggambarkan hasil yang lebih khusus. Cedera fokal diakibatkan dari kerusakan fokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom intraserebral, serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan massa lesi, pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam empat bentuk yaitu: cedera akson menyebar, kerusakan otak hipoksia, pembengkakan otak menyebar, hemoragi kecil multipel pada seluruh otak. Jenis cedera ini menyebabkan koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena cedera menyebar pada hemisfer serebral, batang otak, atau dua-duanya.

F. Manifestasi Klinis
• Hilangnya kesadaran kurang dari 30 menit atau lebih
• Kebungungan
• Iritabel
• Pucat
• Mual dan muntah
• Pusing kepala
• Terdapat hematoma
• Kecemasan
• Sukar untuk dibangunkan
• Bila fraktur, mungkin adanya ciran serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorrhea) bila fraktur tulang temporal.

G. Komplikasi
• Hemorrhagie
• Infeksi
• Edema
• Herniasi

H. Pemeriksaan Penunjang
 Laboratorium: darah lengkap (hemoglobin, leukosit, CT, BT)
 Rotgen Foto
 CT Scan
 MRI

I. Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksanaan therapeutic pasien dengan trauma kepala adalah sebagai berikut:
1. Observasi 24 jam
2. Jika pasien masih muntah sementara dipuasakan terlebih dahulu.
3. Berikan terapi intravena bila ada indikasi.
4. Anak diistirahatkan atau tirah baring.
5. Profilaksis diberikan bila ada indikasi.
6. Pemberian obat-obat untuk vaskulasisasi.
7. Pemberian obat-obat analgetik.
8. Pembedahan bila ada indikasi.

J. Rencana Pemulangan
1. Jelaskan tentang kondisi anak yang memerlukan perawatan dan pengobatan.
2. Ajarkan orang tua untuk mengenal komplikasi, termasuk menurunnya kesadaran, perubahan gaya berjalan, demam, kejang, sering muntah, dan perubahan bicara.
3. Jelaskan tentang maksud dan tujuan pengobatan, efek samping, dan reaksi dari pemberian obat.
4. Ajarkan orang tua untuk menghindari injuri bila kejang: penggunaan sudip lidah, mempertahankan jalan nafas selama kejang.
5. Jelaskan dan ajarkan bagaimana memberikan stimulasi untuk aktivitas sehari-hari di rumah, kebutuhan kebersihan personal, makan-minum. Aktivitas bermain, dan latihan ROM bila anak mengalami gangguan mobilitas fisik.
6. Ajarkan bagaimana untuk mencegah injuri, seperti gangguan alat pengaman.
7. Tekankan pentingnya kontrol ulang sesuai dengan jadual.
8. Ajarkan pada orang tua bagaimana mengurangi peningkatan tekanan intrakranial.








BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian.
2. Pemeriksaan fisik
a. Sistem respirasi : suara nafas, pola nafas (kusmaull, cheyene stokes, biot, hiperventilasi, ataksik)
b. Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan organ atau pengaruh PTIK
c. Sistem saraf :
 Kesadaran  GCS.
 Fungsi saraf kranial  trauma yang mengenai/meluas ke batang otak akan melibatkan penurunan fungsi saraf kranial.
 Fungsi sensori-motor  adakah kelumpuhan, rasa baal, nyeri, gangguan diskriminasi suhu, anestesi, hipestesia, hiperalgesia, riwayat kejang.
d. Sistem pencernaan
 Bagaimana sensori adanya makanan di mulut, refleks menelan, kemampuan mengunyah, adanya refleks batuk, mudah tersedak. Jika pasien sadar  tanyakan pola makan?
 Waspadai fungsi ADH, aldosteron : retensi natrium dan cairan.
 Retensi urine, konstipasi, inkontinensia.
e. Kemampuan bergerak : kerusakan area motorik  hemiparesis/plegia, gangguan gerak volunter, ROM, kekuatan otot.
f. Kemampuan komunikasi : kerusakan pada hemisfer dominan  disfagia atau afasia akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf fasialis.
g. Psikososial  data ini penting untuk mengetahui dukungan yang didapat pasien dari keluarga.

B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah:
1. Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
3. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran.
4. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah.
5. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial.
6. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
7. Resiko infeksi berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.
8. Kecemasan orang tua-anak berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.
9. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.

C. Intervensi Keperawatan
1. Resiko tidak efektifnya jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan meningkatnya tekanan intrakranial.
Tujuan: Pola nafas dan bersihan jalan nafas efektif yang ditandai dengan tidak ada sesak atau kesukaran bernafas, jalan nafas bersih, dan pernafasan dalam batas normal.
Intervensi:
 Kaji Airway, Breathing, Circulasi.
 Kaji anak, apakah ada fraktur cervical dan vertebra. Bila ada hindari memposisikan kepala ekstensi dan hati-hati dalam mengatur posisi bila ada cedera vertebra.
 Pastikan jalan nafas tetap terbuka dan kaji adanya sekret. Bila ada sekret segera lakukan pengisapan lendir.
 Kaji status pernafasan kedalamannya, usaha dalam bernafas.
 Bila tidak ada fraktur servikal berikan posisi kepala sedikit ekstensi dan tinggikan 15 – 30 derajat.
 Pemberian oksigen sesuai program.

2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
Tujuan: Perfusi jaringan serebral adekuat yang ditandai dengan tidak ada pusing hebat, kesadaran tidak menurun, dan tidak terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.
Intervensi:
 Tinggikan posisi kepala 15 – 30 derajat dengan posisi “midline” untuk menurunkan tekanan vena jugularis.
 Hindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya
 peningkatan tekanan intrakranial: fleksi atau hiperekstensi pada leher, rotasi kepala, valsava meneuver, rangsangan nyeri, prosedur (peningkatan lendir atau suction, perkusi).
 tekanan pada vena leher.
 pembalikan posisi dari samping ke samping (dapat menyebabkan kompresi pada vena leher).
 Bila akan memiringkan anak, harus menghindari adanya tekukan pada anggota badan, fleksi (harus bersamaan).
 Berikan pelembek tinja untuk mencegah adanya valsava maneuver.
 Hindari tangisan pada anak, ciptakan lingkungan yang tenang, gunakan sentuhan therapeutic, hindari percakapan yang emosional.
 Pemberian obat-obatan untuk mengurangi edema atau tekanan intrakranial sesuai program.
 Pemberian terapi cairan intravena dan antisipasi kelebihan cairan karena dapat meningkatkan edema serebral.
 Monitor intake dan out put.
 Lakukan kateterisasi bila ada indikasi.
 Lakukan pemasangan NGT bila indikasi untuk mencegah aspirasi dan pemenuhan nutrisi.
 Libatkan orang tua dalam perawatan anak dan jelaskan hal-hal yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial.

3. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya kesadaran.
Tujuan: Kebutuhan sehari-hari anak terpenuhi yang ditandai dengan berat badan stabil atau tidak menunjukkan penurunan berat badan, tempat tidur bersih, tubuh anak bersih, tidak ada iritasi pada kulit, buang air besar dan kecil dapat dibantu.
Intervensi:
 Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktivitas, makan – minum, mengenakan pakaian, BAK dan BAB, membersihkan tempat tidur, dan kebersihan perseorangan.
 Berikan makanan via parenteral bila ada indikasi.
 Perawatan kateter bila terpasang.
 Kaji adanya konstipasi, bila perlu pemakaian pelembek tinja untuk memudahkan BAB.
 Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan demonstrasikan, seperti bagaimana cara memandikan anak.

4. Resiko kurangnnya volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan: Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan volume cayran atau dehidrasi yang ditandai dengan membran mukosa lembab, integritas kulit baik, dan nilai elektrolit dalam batas normal.

Intervensi:
 Kaji intake dan out put.
 Kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, membran mukosa, dan ubun-ubun atau mata cekung dan out put urine.
 Berikan cairan intra vena sesuai program.

5. Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan intrakranial.
Tujuan: Anak terbebas dari injuri.
Intervensi:
 Kaji status neurologis anak: perubahan kesadaran, kurangnya respon terhadap nyeri, menurunnya refleks, perubahan pupil, aktivitas pergerakan menurun, dan kejang.
 Kaji tingkat kesadaran dengan GCS
 Monitor tanda-tanda vital anak setiap jam atau sesuai dengan protokol.
 Berikan istirahat antara intervensi atau pengobatan.
 Berikan analgetik sesuai program.

6. Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
Tujuan: Anak akan merasa nyaman yang ditandai dengan anak tidak mengeluh nyeri, dan tanda-tanda vital dalam batas normal.
Intervensi:
 Kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala nyeri, catat lokasi nyeri, lamanya, serangannya, peningkatan nadi, nafas cepat atau lambat, berkeringat dingin.
 Mengatur posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi nyeri.
 Kurangi rangsangan.
 Pemberian obat analgetik sesuai dengan program.
 Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur.
 Berikan sentuhan terapeutik, lakukan distraksi dan relaksasi.
7. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya injuri.
Tujuan: Anak akan terbebas dari infeksi yang ditandai dengan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi: suhu tubuh dalam batas normal, tidak ada pus dari luka, leukosit dalam batas normal.
Intervensi:
 Kaji adanya drainage pada area luka.
 Monitor tanda-tanda vital: suhu tubuh.
 Lakukan perawatan luka dengan steril dan hati-hati.
 Kaji tanda dan gejala adanya meningitis, termasuk kaku kuduk, iritabel, sakit kepala, demam, muntah dan kenjang.

8. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.
Tujuan: Anak dan orang tua akan menunjukkan rasa cemas berkurang yang ditandai dengan tidak gelisah dan orang tua dapat mengekspresikan perasaan tentang kondisi dan aktif dalam perawatan anak.
Intervensi:
 Jelaskan pada anak dan orang tua tentang prosedur yang akan dilakukan, dan tujuannya.
 Anjurkan orang tua untuk selalu berada di samping anak.
 Ajarkan anak dan orang tua untuk mengekspresikan perasaan.
 Gunakan komunikasi terapeutik.

9. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.
Tujuan: Tidak ditemukan tanda-tanda gangguan integritas kulit yang ditandai dengan kulit tetap utuh.
Intervensi:
 Lakukan latihan pergerakan (ROM).
 Pertahankan posisi postur tubuh yang sesuai.
 Rubah posisi setiap 2 jam sekali atau sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak.
 Kaji area kulit: adanya lecet.
 Lakukan “back rub” setelah mandi di area yang potensial menimbulkan lecet dan pelan-pelan agar tidak menimbulkan nyeri.


























DAFTAR PUSTAKA

1. Suriadi & Rita Yuliani. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I. Jakarta: CV Sagung Seto; 2001.
2. Hudak & Gallo. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, Volume II. Jakarta: EGC; 1996.
3. Cecily LB & Linda AS. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2000.
4. Suzanne CS & Brenda GB. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi 8. Volume 3. Jakarta: EGC; 1999.

Sabtu, 16 Oktober 2010

hipnosis diri sendiri

Banyak sekali tutorial self hipnosis yang dijual dalam bentuk cd hipnosis dengan format mp3 hipnosis. Bahkan selain cd hipnosis dengan format mp3, Anda juga dapat belajar cara hipnosis dengan menggunakan panduan hipnosis dengan format hipnosis pdf. Selain itu, di jaman teknologi canggih ini banyak orang yang belajar hipnotis di internet. Maka selain Anda bisa membeli Anda juga dapat melakukan download gratis di internet, dengan begitu Anda bisa mendapatkan hipnosis gratis. Dalam ilmu hipnosis yang dijual dipasar maupun Anda mendapatkan hipnosis gratis, tentunya dalam tutorial hipnosis tersebut banyak cara hipnotis atau teknik hipnotis untuk dipelajari. Salah satunya adalah 10 Langkah melakukan self hipnotis.


10 langkah melakukan self hipnotis yang sering digunakan dalam dunia hipnotis adalah.

1. Cari tempat yang lebih aman sehingga Anda dapat bersantai dengan tempat yang mapan.

2. Pikirkan dengan fokus bahwa Anda akan melakukan hipnotis diri Anda sendiri dengan berkata dalam hati “ Aku akan menghipnotis diriku sendiri selama 20 menit…” ( atau berapa waktu yang Anda inginkan ).

3. Membuat pernyataan kepada diri Anda sendiri tentang alasan Anda melakukan self hipnotis. Dalam proses ini biarkan pikiran bawah sadar Anda untuk bekerja pada suatu masalah yang Anda hadapi. Contoh kalimat hipnotis yang digunakan dalam membuat pernyataan di self hipnotis adalah “Aku akan menghipnotis diriku sendiri untuk tujuan membiarkan pikiran bawah sadar saya untuk membuat penyesuaian yang sesuai untuk membantu saya dalam ………….”. Anda dapat mengisi kalimat hipnotis yang kosong tersebut dengan kalimat hipnotis “berkembang lebih percaya diri dalam situasi sosial” dan lain – lain sesuai keinginan Anda.

4. Mencari tiga hal di depan Anda dan perhatikan satu per satu yang Anda lihat.

5. Perhatikan saluran pendengaran Anda dengan tetap memperhatikan titik fokus yang masih Anda lihat.

6. Rasakan tiga sensasi yang dapat Anda rasakan sekarang, dan berusahalah perlahan – lahan pergi dari satu sensasi ke sensasi berikutnya. Misalnya, rasakan bahwa Anda memakai kaca mata yang berat kemudian rasakan lagi Anda memakai jam tangan. Dan rasakan sensasi tersebut diluar kesadaran Anda.

7. Melanjutkan proses self hipnotis dengan menggunakan dua visual, lalu dua auditories dan kemudian dua kinaesthetics. Kemudian, dengan cara yang sama, terus (lambat) dengan salah satu dari masing-masing.

8. Ketujuh langkah self hipnotis diatas merupakan penyelesaian eksternal dalam menghipnotis diri Anda sendiri. Berikutnya Anda dapat menyelesaian masalah internal untuk self hipnotis dengan menutup mata Anda. Kemudian bawa sebuah objek kedalam pikiran Anda. Jika tidak anda objek untuk dimasukkan dalam pikiran Anda, jangan pernah ragu membuat dan memasukkan sesuatu kedalam pikiran Anda. Sampai Anda benar – benar masuk dalam pikiran bawah sadar.

9. Jeda dan biarkan suara datang ke dalam pemahaman Anda.

10. Sadarilah pikiran dan perasaan yang Anda rasakan dengan tetap menggunakan imajinasi Anda. Misalnya, Aku merasakan hangatnya matahari di wajahku dan lain – lain sesuai imajinasi Anda.



Artikel 10 Langkah Melakukan Self Hipnotis ini dipersembahkan oleh Pakar Hipnotis. Kunjungi PakarBahasaInggris.com tentang Bahasa Inggris Tanpa Grammar.

Minggu, 25 Januari 2009

Berat Badan Bayi

Berapa berat badan bayi Anda ketika lahir? Dan, bagaimana perkembangannya sekarang? Sering kita jumpai, bayi-bayi yang lahir dengan berat badan rendah, akan lebih cepat bertambah berat badannya, seakan-akan mengejar ketinggalannya. Sedangkan bayi-bayi yang besar pada waktu lahir, umumnnya sering tumbuh lambat. Pertambahan ini akan sangat dipengaruhi oleh banyaknya makanan dan keaktifan pencernaan, jenis makanan, dan lain-lain.

Anda dapat memantau perkembangan status gizi bayi Anda secara berkala setiap bulan dengan cara menimbang berat badan bayi dan mengukur panjang badannya. Idealnya, berat badan bayi berada di garis normal pada grafik pertumbuhan. Ini artinya, pertambahan berat badannya seimbang dengan pertambahan tinggi badan dan usia.

Pola pertumbuhan berat badan bayi/BB (weight) dan panjang badan/PB (length) bayi digambarkan dalam Kurva Pertumbuhan atau Weight/Length Chart. Rentangnya dari 5% sampai 95%. Apabila bayi berada dalam chart tersebut, maka bayi masih dikatakan normal. Namun, berada di luar chart baik lebih rendah atau lebih tinggi tidak bisa dinilai ada kelainan, harus diperiksa penyebabnya apa. Misalnya faktor genetik. Memeriksakan dan berdiskusi dengan dokter adalah jalan terbaik.

Ada dua kelompok bayi menurut berat badannya. Pertama, berat badan bayi yang begitu lahir memiliki bobot lebih dari 3.900 gram. Berat badan normal bayi sekitar 2.500-3.800 gram. Kondisi yang dikenal sebagai giant baby, dan dapat terbawa sampai anak tumbuh dewasa.

Kelompok kedua adalah berat badan bayi sewaktu lahir tergolong normal, namun pada masa pertumbuhannya naik cukup banyak hingga melebihi ambang batas grafik pertambahan berat badan. Bayi seperti ini diistilahkan sebagai bayi dengan berat badan di atas rata-rata. Kondisi ini umumnya disebabkan pola makan bayi yang berlebihan dan asupan gizi yang tidak seimbang.

Obesitas diklasifikasikan berdasarkan hasil pengukuran berat badan bayi dibandingkan panjang badannya. Terjadi obesitas ringan jika perbandingan berat badan bayi terhadap panjang badan antara 120-135%, sedangkan disebut obesitas berat bila perbandingan berat badan bayi terhadap panjang badannya antara 150-200%. Bila berat badan bayi naik berlebihan dalam kurun waktu 1-3 bulan di atas rata-rata penambahan berat badan bayi, segeralah berkonsultasi ke dokter dengan lebih intensif.

Sering kita dapati orang tua membanding-bandingkan berat badan bayinya dengan bayi lain. Jika tidak semontok yang lain, maka akan langsung menyimpulkan kalau bayinya kekurangan gizi, kurang sehat, dan sebagainya. Tentu hal ini tidak benar. Fisik bayi yang kurus tidak selalu menandakan dia bermasalah, selama berat badan bayi masih dalam range normal pada grafik pertumbuhan. Adakalanya badan bayi bertambah panjang sehingga kelihatan kurus, padahal berat badan bayi tetap naik.

Hal yang paling penting adalah setiap anak itu unik, berbeda, dan memiliki ciri khas tersendiri. Anda tidak bisa membandingkan dengan kakak ataupun adiknya. Karenanya, tentu tidak bijaksana untuk membanding-bandingkan mereka.
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com

Bayi Kuning

Usia beberapa hari, tidak sedikit bayi mengalami kuning (ikterus) pada kulit dan bola mata. Menurut penelitian, sekitar 70% bayi lahir mengalami kuning. Meski masuk dalam kategori wajar, orangtua harus tetap waspada terhadap bayi kuning.

Penyebab bayi kuning, pada saat di dalam rahim, bayi membutuhkan ekstra sel darah merah yang diproses oleh hati. Tetapi, hati bayi baru lahir biasanya belum mencapai maturasi, sehingga kapasitas pengolahannya belum efisien. Karenanya, terjadilah peningkatan kadar bilirubin, sehingga bayi tampak kuning.

Kuning pada bayi umumnya timbul pada hari keempat dan berakhir pada usia bayi 2 minggu. Pada minggu kedua inilah, kemampuan hati akan meningkat, bayi tidak lagi kuning. Perlu diketahui, jika Anda memberikan ASI eksklusif, maka kuning pada bayi akan berlangsung lebih lama. Meski demikian ibu tidak perlu cemas dan tetap meneruskan pemberian ASI pada bayi.

Untuk itu ada beberapa hal yang tak boleh luput dari perhatian untuk menghindari bayi kuning, seperti:

1. Patuhi jadwal kunjungan ke dokter berikutnya. Bila kadar bilirubin tidak terlalu tinggi (< 10), umumnya bayi diperkenankan untuk pulang ke rumah. Namun, biasanya 3 hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, bayi diminta kembali ke dokter/rumah sakit untuk dikontrol kadar bilirubinnya. Ini dimaksudkan bila terjadi peningkatan bilirubin yang tinggi dapat segera dilakukan tindakan. Karenanya, patuhi jadwal tersebut!
2. Cermati kondisi bayi. Jika ada tanda-tanda bayi tidak aktif, seperti tidur terus dan malas menetek segera bawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dijadikan tanda bahwa telah terjadi peningkatan kadar bilirubin yang berisiko memicu kejang pada bayi. Cara lain yang paling mudah untuk mengamati peningkatan bilirubin adalah melalui bola mata dan kulit bayi yang terlihat menguning.
3. Berikan ASI sebanyak mungkin. Banyak minum ASI dapat membantu menurunkan kadar bilirubin, karena bilirubin dapat dikeluarkan melalui air kencing dan kotoran bayi.
4. Jemur bayi di matahari pagi. Menjemur bayi tanpa busana di bawah sinar matahari pagi antara (pukul 07.30 - 08.30) dapat membantu memecah bilirubin dalam darah. Lindungi mata bayi dari sorot sinar matahari secara langsung.


Meski demikian, tidak semua bayi kuning bisa diobati hanya dengan menjemurnya di bawah sinar matahari pagi. Ada juga yang perlu dirawat inap di rumah sakit untuk menjalani beberapa terapi. Tentu saja jika bayi terdeteksi memiliki kadar bilirubin di atas ambang normal.

Semakin Anda mematuhi saran diatas, maka akan semakin cepat hilangnya kuning pada bayi Anda.
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com

Gizi Bayi

ASI merupakan gizi bayi terbaik, sumber makanan utama dan paling sempurna bagi bayi usia 0-6 bulan. ASI eksklusif menurut WHO (World Health Organization) adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk, ataupun makanan tambahan lain. Sebelum mencapai usia 6 bulan sistem pencernaan bayi belum mampu berfungsi dengan sempurna, sehingga ia belum mampu mencerna makanan selain ASI.

Setelah masa ini, bayi mesti dikenalkan dengan makanan pendamping ASI. Contohnya bubur susu, bubur saring, dan nasi tim. Mulai usia ini kapasitas pencernaan, enzim pencernaan, dan kemampuan metabolisme bayi sudah siap untuk menerima makanan lain selain ASI. Kebutuhan gizi bayi tidak tercukupi dari ASI saja. Sekitar 70% kebutuhann gii bayi tercukupi dari ASI dan 30% dari makanan pendamping ASI.

Agar bayi memiliki memori yang memudahkan dia mengonsumsi aneka bahan makanan bergizi, maka perlu dikenalkan tekstur dan rasa sejak dini. Kesulitan pemberian makan akan jarang terjadi karena anak sudah terbiasa dengan beragam bahan makanan sejak dini, sehingga gizi bayi tidak terpenuhi.

Pendisiplinan pemberian makan secara teratur juga membentuk kebiasaan yang baik Disiplin ini penting untuk pertumbuhan fisik dan pembentukan pola hidupnya kelak.

Adapun standar kebutuhan gizi bayi adalah sebagai berikut :

* Kalori: 100-120 per kilogram berat badan.
Bila berat badan bayi 8 kilogram maka kebutuhannya: 8 x 100 /120 = 800/960 kkal
* Protein: 1,5-2 gram per kilogram berat badan
Bila berat badan bayi 8 kilogram maka kebutuhannya 8 x 1,5/2 = 12/16 : 4 = 3/4 gram
* Karbohidrat: 50-60 persen dari total kebutuhan kalori sehari
Bila kebutuhan kalori sehari 800 kkal, maka 50%-nya = 400 : 4 = 100 gram
* Lemak: 20 persen dari total kalori
Bila kebutuhan kalori sehari 800 kkal, maka 20%-nya = 160 : 40 = 40 gram

Oh ya, mengingat tubuh bayi rentan terhadap penyakit dan untuk memenuhi gizi bayi, maka setiap kali mengolah makanan, lakukan hal-hal berikut:

* Cuci semua bahan makanan seperti buah dan sayur sampai bersih.
* Gunakan peralatan makan dan minum yang steril, yakni dicuci bersih di air mengalir dan direndam di air mendidih atau dimasukkan ke dalam alat steril selama 5 menit.
* Pastikan tangan sudah dicuci bersih. Gunakan sendok yang berbeda ketika Anda ingin mencicipinya. Hal ini untuk menghindari perpindahan virus atau kuman yang mungkin ada di mulut Anda ke mulut bayi.
* Cuci peralatan makan bayi setiap kali selesai dipakai. Buang sisa makanannya karena enzim yang berasal dari ludah bayi akan mulai "mencerna" makanan itu, mengubahnya menjadi berair, dan cepat busuk.

Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com

Gendongan Bayi

Mengajak dan mengenalkan bayi Anda kemana-mana pastinya menyenangkan. Namun jika Anda mengajaknya berlama-lama tanpa alat bantuan, maka pasti akan capek. Gendongan bayi atau biasa disebut juga dengan baby carrier (BC) akan membantu Anda mengatasi hal ini. Anda bisa mengajak bayi Anda kemana saja dengan mudah dan ringan.

Anda tidak perlu khawatir, saat ini sudah banyak sekali gendongan bayi yang ditawarkan di pasaran. Meski demikian, tidak semua memenuhi kriteria gendongan yang aman, simple, sehat, kuat, dan nyaman bagi bayi dan penggendong. Gendongan bayi yang sesuai kriteria tidak akan membuat tangan kesemutan, nyeri di pundak, atau badan dan kaki pegal-pegal. Poin pentingnya, gendongan yang baik bisa membagi beban dengan sempurna, sehingga bayi pun mau berlama-lama dalam gendongan yang nyaman.

Berikut syarat gendongan bayi yang sesuai kriteria :

* Aman
1. Bahan yang digunakan harus lembut, tidak membuat bayi alergi, tidak membuat kulit bayi teriritasi atau lecet, dan harus bisa meredam benturan.
2. Bentuk tali pengait harus sesuai dengan tubuh si kecil.
3. Bagian-bagian tubuh bayi yang belum kuat atau rentan, seperti leher, kepala, dan pinggang, mampu ditopang oleh gendongan dengan sempurna
4. Sesuaikan dengan berat tubuh bayi. Setiap gendongan dibuat menurut kapasitas berat badan di usia bayi.
5. Pastikan gendongan bayi minimal memiliki 5 poin sabuk yang akan mengikatkannya pada tubuh Anda.
* Sehat
1. Webbing (tali penyangga) yang digunakan tidak membuat Anda nyeri.
2. Kain yang digunakan harus mampu menyerap keringat sekaligus panas tubuh bayi.
3. Memiliki sirkulasi yang baik.
4. Memiliki penadah (lap atau saputangan) gumoh atau air liur bayi.
5. Empuk sehingga bayi tak mudah pegal dan betah di dalam gendongan.
6. Bisa dicuci.
* Simpel
1. Mudah dikenakan.
2. Mudah memasukkan dan mengeluarkan bayi ke atau dari gendongan dalam hitungan detik.
3. Mudah mengontrol keadaan bayi.
4. Sangat baik jika gendongan bayi juga memudahkan bayi menyusu ASI dari ibunya.
* Kuat
1. Gendongan bayi benar mampu menopang berat badan bayi sesuai kapasitasnya dengan baik.
2. Perhatikan masa kadaluarsanya
3. Jahitannya harus benar. Paling baik dijahit di sisi luar dan dalam.
* Sesuaikan Dengan Usia Bayi
1. Bayi usia 0-3 bulan paling baik menggunakan gendongan bayi model tiduran. Bayi usia ini belum saatnya untuk didudukkan, terlebih lehernya belum bisa menopang beban kepalanya.
2. Bayi usia 3-6 bulan boleh menggunakan gendongan bayi model duduk, tetapi yang penempatannya di depan. Paling baik bayi diposisikan menghadap ke depan agar bayi bisa memandang lingkungan atau tempat dia berada dengan leluasa.
3. Mulai usia 6 bulan ke atas, Anda boleh menempatkannya dalam gendongan bayi model gendong belakang.

Karena gendongan bayi yang dijual di pasaran umumnya buatan negara-negara Barat, tak heran jika ukurannya disesuaikan dengan postur tubuh anak-anak kulit putih. Alhasil, sekalipun peruntukannya sesuai dengan berat badan anak kita, bisa saja bayi tenggelam saat berada di dalamnya. Jadi cobalah terlebih dahulu sebelum membeli gendongan bayi yang baik.

Pilihlah juga gendongan bayi yang memungkinkan bayi bebas menggerakkan kepala, tangan, maupun kakinya.
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com

Cara Memandikan Bayi

Tidak semua orang tua berani memandikan bayinya sendiri. Sebagian besar alasan adalah mereka tidak memahami cara memandikan bayi dengan benar. Karenanya, tidak jarang orang tua memercayakan urusan ini kepada baby sitter, atau orang lain yang dianggap mampu untuk memandikan bayi.

Bayi sebenarnya tidak perlu dimandikan setiap hari. Cara memandikan bayi yang belum kering tali pusarnya, tidak perlu dimasukkan di bak berisi air. Cukup dengan menyeka bagian pentingnya saja dengan kain lembut yang sudah dibasahi pada bagian muka, tangan, kepala, leher, perut, pantat, serta kemaluan.

Terkait masalah mandi, setiap bayi memiliki kebiasaan berbeda. Ada bayi yang menyukai air, ada yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan air. Untuk bayi yang belum menyukai air, cara memandikan bayi hanya dengan menyeka saja. Terkait waktu mandi, cobalah untuk mencari yang paling nyaman bagi bayi. Jangan heran jika kemudian ada yang memandikan bayi di malam hari, sebagai bagian proses relaksasi sebelum tidur.

Berikut cara memandikan bayi yang tepat :

1. Siapkan terlebih dahulu keperluan mandi, sabun bayi, kapas dan air matang yang dingin, kain flannel lembut, popok dan baju bersih
2. Isi air hangat ke bak mandi, periksa suhunya dengan sikut. Airnya harus hangat, namun tidak panas. Idealnya sekitar 28 hingga 29 derajat celcius. Oh ya, pastikan juga ruangan untuk memandikan bayi cukup hangat dan tidak berangin.
3. Buka baju bayi dan bungkus dengan handuk di pangkuan Anda.
4. Cara memandikan bayi untuk daerah mata, usap mata dengan kapas yang telah dibasahi dengan air matang dingin. Usapkan dari pangkal hidung ke sudut mata bagian luar.
5. Tahan leher dan pundaknya, sabuni dan bilas dengan tangan Anda yang bebas. Untuk bagian kemaluan, pada bayi perempuan, siram kemaluan dengan air. Buka bibir kemaluan dengan lembut dan bersihkan. Untuk bayi laki-laki, bersihkan bagian bawahnya, tanpa menarik kulup penis jika belum disunat.
6. Cara memandikan bayi untuk daerah punggung dan pantat, tengkurapkan bayi di tangan. Buka belahan pantatnya untuk membersihkan anusnya.
7. Pegang pantatnya dan angkat. Bungkus dengan handuk, tepuk-tepuk agar kering. Biarkan bayi terbungkus handuk saat Anda memakaikan baju dan popoknya. Hati-hatilah dalam mengangkat bayi, karena kulitnya yang licin.


Hal yang perlu diperhatikan, cara memandikan bayi dengan air bersih saja sudah cukup. Namun jika Anda ingin menggunakan sabun atau sampo, maka pilihlah yang aman untuk bayi, tanpa pewangi dan deodorant.

Nah, semoga tips cara memandikan bayi di atas bermanfaat untuk Anda, dan Anda tidak takut lagi untuk mempraktekkan pada bayi Anda.
Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com